Ternyata ini Alasan Kenapa Scrum Sulit Berkembang Di Indonesia

Melihat perkembangan Scrum yang ada di Indonesia, Scrum sendiri merupakan sebuah kerangka kerja sederhana untuk mengembangkan produk yang dikembangkan oleh Jeff Sutherland dan Ken Schwaber semenjak tahun 1995. Paparan mengenai Scrum dapat dibaca lebih lanjut disini. Scrum banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan software seperti Microsoft, Adobe, Salesforce.com, Google, Netflix, Spotify, dan masih banyak lagi. Scrum sendiri banyak digunakan oleh banyak startup companies.

Lalu apa alasan kenapa Scrum sulit berkembang di indonesia?

Itu dikarenakan banyak orang Indonesia yang sok tahu dan mengklaim sudah menguasai penuh tentang Scrum setelah membaca blog seseorang atau melihat video mengenai Scrum di Youtube beberapa menit atau jam yang lalu. Semoga anda tidak masuk dalam golongan seperti ini. Kalau anda tidak tahu apa itu Scrum, maka tidak ada yang salah dengan itu, yang salah adalah apabila anda masih memelihara persepsi yang salah tersebut dan tidak secara berlanjut mencari tahu kebenarannya. Karena tidak adanya budaya curiosity and continuous learning inilah membuat Scrum sulit berkembang di Indonesia.

Beberapa alasannya ada dibawah ini:

1. Orang Indonesia lebih peduli dengan hasil, bukan proses

scrum indonesia

Di negara-negara maju pada umumnya, proses itu sangat penting karena selain proses menentukan hasil, juga karena biaya tenaga kerja yang sangat mahal. Bahkan proses dapat dihentikan hingga berhari-hari lamanya demi keluaran yang lebih baik di masa mendatang. Karena tenaga kerja software developer di Indonesia tergolong relatif murah dibandingkan dengan negara-negara industri maju, maka solusi untuk mempercepat keluaran adalah dengan menambah jumlah tenaga kerja atau menyuruh tenaga kerja tersebut untuk kerja lembur hingga larut malam.

Orang Indonesia selalu berpedoman pada “yang penting selesai” (walaupun perlu lembur), sedangkan di negara maju “bagaimana menyelesaikannya” merupakan sesuatu yang lebih penting supaya lembur tidak menjadi kebiasaan. Orang Indonesia beranggapan bahwa investasi pada proses adalah sesuatu yang tidak bermanfaat bagi organisasi mereka sehingga mereka lebih berorientasi pada hasil.

2. Orang Indonesia takut menghadapi kegagalan dan tidak memiliki budaya continuous learning

Ketika sebuah organisasi mendapatkan sebuah pelatihan mengenai Scrum, maka seluruh pihak di dalam organisasi akan menerapkan Scrum secara textbook apa adanya. Dan ketika mereka menemui masalah yang tidak pernah dijelaskan oleh pengajar pada saat pelatihan, mereka cenderung kembali ke kebudayaannya yang lama daripada membuka pikiran dan berkolaborasi dengan anggota tim lainnya untuk mencari jalan keluar.

Permasalahan ini berkaitan erat dengan masalah sebelumnya dimana orang Indonesia selalu menunggu daripada menjadi pendahulu, budaya untuk gagal masih dianggap tabu di Indonesia. Daripada gagal menjalankan Scrum sendiri, mereka mau melihat orang lain gagal terlebih dahulu. Continuous learning adalah sesuatu yang dianggap mahal di Indonesia. Kebanyakan orang di Indonesia cenderung berhenti belajar setelah masuk ke dunia kerja. Apalagi bila jabatan orang tersebut semakin tinggi. Di Indonesia, belajar hanya dilakukan sebelum mendapatkan pekerjaan saja.


Baca juga: 


3. Orang Indonesia bekerja mengikuti arus, bukan melawan arus

Ketika seseorang membawa masuk proses Scrum ke dalam sebuah organisasi, orang-orang di dalamnya akan mengikuti arus. Namun ketika orang tersebut pergi maka Scrum juga akan ikut pergi bersama dengan pionir Scrum organisasi tersebut. Sehingga ketika ada pimpinan baru yang tidak mengenal Scrum, orang-orang lainnya akan mengikuti cara apapun yang dia kenalkan ke dalam organisasi daripada mengenalkan Scrum kepada pimpinan baru tersebut.

Di Indonesia, pengaruh buruk satu orang dapat melibas kebiasaan baik yang telah dibangun oleh sepuluh orang sekian lama. Orang Indonesia tidak suka menghadapi konflik dan cenderung mengikuti arus, walaupun arus tersebut tidak selalu bersifat positif. Tujuan utama orang Indonesia bekerja adalah uang bukan sesuatu yang ia percayai membawa kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya. Asalkan ia bisa mendapatkan banyak uang walaupun dengan melakukan hal yang ia tidak percayai, ia akan tetap melakukan hal yang tidak ia percayai tersebut. Alasan ini yang membuat Scrum di Indonesia tidak akan pernah menjadi kultur organisasi yang persisten namun cuma sebuah jargon yang cuma numpang lewat dalam sebuah organisasi.

4. Orang Indonesia selalu membandingkan Scrum dengan metodologi manajemen proyek tradisional

Orang Indonesia masih kesulitan melihat dari sudut pandang produk yang dapat meningkatkan revenue perusahaan dan selalu melihat dari sudut pandang proyek yang memiliki batasan budget. Tidak peduli berapa kali kami selalu mengatakan kalau Scrum hanyalah sebuah kerangka kerja untuk mengembangkan produk, orang Indonesia akan selalu kembali melihatnya dari sudut pandang manajemen proyek.

Bagi orang Indonesia hidup bagaikan proyek-proyek yang harus ada tanggal akhirnya, sehingga merubah pola pikir menjadi berorientasi pada produk sangatlah sulit (bila tidak mustahil). Orang Indonesia lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk melakukan pemetaan Scrum ke metodologi manajemen proyek yang sudah mereka ketahui saat ini daripada unlearn apapun yang mereka sudah ketahui dan memulai Scrum di organisasinya.

5. Orang Indonesia lebih suka disuapi daripada berpikir out-of-the-box

scrum indonesia

Mental yang lebih suka melihat segala sesuatu apa adanya dan mental lebih suka disuapi membuat Scrum yang sangat menekankan kreatifitas sulit masuk ke benak pikiran orang Indonesia. Orang Indonesia lebih suka duduk di zona nyaman sedangkan berpikir out-of-the-box membuat mereka harus keluar dari kursi nyaman. Orang Indonesia lebih suka sesuatu yang lebih kompleks karena kelihatan lebih detail daripada yang sederhana karena kelihatan kacangan.

Melihat permasalahan-permasalahan di atas yang begitu kompleks dan saling berkaitan satu sama lain kita bisa berpendapat kalau Scrum sulit untuk berkembang dengan cepat di Indonesia. Penggunaan Scrum di Indonesia akan selalu berada di tingkatan dasar, datar dari waktu ke waktu dan tidak akan lebih maju lagi dari itu. Penggunaannya di organisasi tersebut pun hanya akan bersifat sementara saja, tergantung berapa lama orang yang membawa Scrum ke organisasi tersebut bertahan di dalam organisasi. Level pemikiran orang Indonesia mengenai Scrum akan selalu sampai di mekanik saja dan tidak akan pernah lebih dalam mencapai hingga nilai dan prinsip di balik mekanik tersebut.


TOG Indonesia can provide IT professionals for temporary, fixed-period placement in your company for project-based assignments:  IT Developer, Software Tester, Project Manager, Business Analyst, System Analyst, Security Engineer, etc.

We provide competent trainers in the field of Information and Technology with a certified and proven track record for developing human resources from leading multinational and national companies in Indonesia. To formalize the training program while creating a strong foundation for educational programs, Triple One Global Indonesia develops by combining high quality IT education and IT Training to add broad insights into the latest developments.

For more info please call: 021-21192578,  WhatsApp: 08151622988

Jln. Mandala Raya No 35 , Jakarta Barat

Email: [email protected]tog indonesia

 

(Visited 11 times, 1 visits today)